hipermetropi tagged posts

Ini Perbedaan Gangguan Paling Mata Populer: Hipermetropi & Miopi

Salah satu indera manusia yang paling rentan mengalami gangguan fungsi mungkin adalah mata. Ada begitu jenis gangguan atau kondisi yang menyebabkan fungsi mata melemah atau hilang sepenuhnya. Dua yang paling populer adalah hipermetropi dan miopi.

Hipermetropi dan miopi membuat mata seseorang tidak dapat melihat secara normal. Ini disebabkan oleh ketidakmampuan mata untuk bekerja secara maksimal. Hipermetropi dan miopi memiliki istilah yang lebih umum di Indonesia, yakni rabun jauh dan rabun dekat.

Jika dilihat dari definisinya, mungkin sudah terlihat perbedaan antara rabun jauh dan rabun dekat. Namun, tahukah Anda perbedaan yang lebih mendetil dari keduanya? Berikut ulasannya:

  • Miopi atau Rabun Jauh

Gangguan penglihatan yang cukup umum ini dapat dimengerti sebagai suatu kondisi di mana seseorang dapat melihat benda atau objek yang jaraknya dekat dengan jelas, tetapi objek yang jaraknya jauh akan terlihat kabur atau tidak jelas. Kondisi ini dapat berkembang secara bertahap maupun secara cepat, dan seringkali bertambah buruk seiring bertambahnya usia.

Hal ini terjadi karena cahaya pantulan objek yang masuk ke mata (focal point) tidak jatuh tepat di retina, melainkan jatuh di depan retina sehingga menyebabkan gambar yang diterima mata menjadi kabur. Biasanya, mereka yang mengalami rabun jauh atau miopi adalah mereka yang gemar membaca buku atau mereka yang kerap berkutat dalam waktu yang lama di hadapan layar komputer.

Salah satu faktor utama penyebab miopi atau rabun jauh adalah genetika atau keturunan. Turunan sifat orang tua amat berperan dalam kondisi ini. Selain itu, faktor-faktor lain seperti kurangnya makanan bergizi dan kebiasaan buruk pun bisa mendorong seseorang memiliki rabun jauh. Kebisasaan buruk tersebut seperti melihat media visual (televisi, komputer, gadget) dalam jarak dekat, membaca sambil tiduran, dan membaca di tempat yang kurang cahaya (remang).

Meski tidak terlalu siginifikan, perbedaan ras juga punya andil dalam kondisi ini. orang Asia memiliki kecenderungan miopia yang lebih besar (70% – 90%) dari pada orang Eropa dan Amerika (30% – 40%). Paling kecil adalah Afrika (10% – 20%).

  • Hipermetropi atau Rabun Dekat

Berbanding terbalik dengan miopi, hipermetropi adalah kondisi di mana seseorang tak mampu melihat objek dalam jarak dekat. Hal ini terjadi karena fokal point jatuh di luar retina mata. Tingkat rabun dekat seseorang dipengaruh oleh kemampuan mata untuk fokus.

Rabun Dekat sering dikaitkan dengan presbyopia atau menurunnya elastilitas lensa, hipermetropi biasanya dialami oleh seseorang yang telah berusia 40 tahun ke atas. Sama seperti miopi, rabun dekat rabun dekat juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Hipermetropi merupakan kondisi yang sudah ada sejak lahir, meski dapat sembuh dengan sendirinya pada usia sekitar 12 tahun.

Pada usia muda kemampuan akomodasi mata masih sangat baik, sehingga anak atau remaja yang mengidap hipermetropia tidak merasa terganggu. Pada orang dewasa, kemampuan akomodasi mata akan banyak menurun dan sangat terasa pada usia sekitar 40 tahun, di mana pada saat itu ia akan kesulitan melihat benda kecil dalam jarak dekat (± 30cm).

Kondisi ini juga merupakan bagian dari proses penuaan yang secara alamiah dialami oleh hampir semua orang. Penderita akan menemukan perubahan kemampuan penglihatan dekatnya.

Pada usia ini, keadaan lensa kristalin berada dalam kondisi dimana elastisitasnya telah banyak berkurang sehingga menjadi lebih kaku dan menimbulkan hambatan terhadap proses akomodasi, karena proses ini utamanya adalah dengan mengubah bentuk lensa kristalin menjadi lebih cembung.

***

Jika pada miopi atau rabun jauh seseorang masih memiliki banyak peluang untuk menghindari dan memperbaiki daya penglihatannya, penderita hipermetropi cenderung lebih sulit mencegah kondisi itu terjadi. Namun, mereka tetap dapat memperlambat prosesnya dengan mengkonsumsi makanan yang mendukung kesehatan mata, menjaga mata dari terpaan cahaya matahari langsung, dan mengurangi melihat objek yang dekat secara periodik.

Itulah perbedaan yang mendasar dari hipermetropi dan miopi, dua gangguan mata yang paling umum terjadi. Penderita miopi dapat menggunakan kacamata berlensa minus untuk membantu mengembalikan tingkat penghilatannya, sedang penderita hipermetropi sebaliknya. Mereka dapat menggunakan kacamata plus. Keduanya juga dapat diatasi dengan operasi bedah mata dan terapi pengobatan.

Read More