gangguan kecemasan tagged posts

7 Masalah yang Bisa Timbul karena Represi Mental

Suatu kejadian yang luar biasa menyedihkan, menakutkan, ataupun mengecewakan akan berpengaruh pada sistem mental Anda. Jika sudah keterlaluan, mental secara otomatis akan membentuk pertahanan diri yang dikenal sebagai represi mental. Secara lebih sederhana, represi mental merupakan bentuk penolakan terhadap hal-hal yang di luar keinginan Anda. Bentuk penolakan tersebut bisa berujung pada kondisi pelupaan terhadap sesuatu kejadian yang meyebabkan hadirnya represi mental tersebut.

Ketika mengalami represi mental, Anda bisa mudah sekali bahkan tidak mengingat kejadian yang membuat Anda sedih, kecewa, atau takut tersebut. Namun, tentunya ada efek dari pertahanan diri ini. Di mana akan muncul berbagai gejala psikologis yang bisa menganggu sedikit banyak kehidupan Anda.

Berikut ini adalah berbagai masalah yang timbul akibat Anda membiarkan represi mental terus melingkupi diri Anda. Beberapa masalah bahkan bisa menyeret Anda ke dalam kondisi fisik yang tidak menyehatkan.

  1. Kecemasan

Pertahanan diri yang Anda buat di alam bawah sadar untuk menekan bayangan terhadap suatu amarah, kekecewaan, ataupun kesedihan sangat mudah berujung pada rasa cemas yang berlebihan. Uniknya, rasa cemas yang Anda rasakan sulit untuk dijabarkan. Anda bisa tiba-tiba merasa sangat cemas dan takut tanpa suatu sebab yang pasti.

  • Masalah Tidur

Orang-orang yang memiliki represi mental sebenarnya masih memiliki rasa kecewa, sedih, atau marah yang ditahannya. Hanya saja karena egonya, rasa-rasa yang tidak menyenangkan tersebut tertahan di alam bawah sadar. Rasa tersebut sangat mudah terwujud dalam bentuk mimpi buruk yang menganggu tidur penderita hingga berujung pada penurunan tingkat kualitas hidup.

  • Kelelahan

Kondisi emosi yang menjadi tidak labil karena represi mental akan ikut memengaruhi fisik Anda. Apalagi, represi mental rentan membuat Anda mengalami masalah tidur karena mimpi buruk. Alhasil, Anda akan selalu tampak kelelahan dan tidak mampu berproduktivitas secara optimal.

  • Fobia

Banyak ragam fobia di dunia. Rata-rata fobia yang terjadi pada seseorang dikarenakan ada masalah di bagian otak amigdala yang mengatur rasa takut. Namun, sangat sulit ditemukan penyebab dasar munculnya fobia yang menyerang tersebut. Dalam penelitian ahli psikologi Sigmund Freud, fobia sendiri merupakan efek represi mental. Penyebab fobia menjadi sulit ditentukan karena penderita sudah menolak terlebih dahulu masa lalu yang menghadirkan rasa takut tanpa alasan tersebut.

  • Masalah Pencernaan

Penolakan terhadap kondisi yang tidak menyenangkan bukan artinya masalah tersebut tidak membebani pikiran Anda. Bahkan ketika sudah mengalami represi mental, Anda tetap belum menyelesaikan perkara dengan masalah tersebut. Ketakutan yang tanpa sadar hadir dari masalah tersebut akan rentan menghadirkan masalah pencernaan bagi tubuh penderitanya.

  • Tekanan Darah Tinggi

Represi mental kerap menghadirkan rasa cemas yang berlebihan. Rasa cemas tersebut bisa sangat berpengaruh pada tekanan darah Anda. Orang yang cenderung cemas akan memiliki tekanan darah yang lebih tinggi daripada orang lain. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini akan menyeret Anda pada kasus hipertensi.

  • Penyakit Kardiovaskular

Jika sudah mencapai tahap terkenan hipertensi, Anda pun mesti berwaspada akan penyakit lainnya. Kecemasan dan ketakutan yang tidak dikelola dengan baik juga bisa membuat Anda terperangkat ke masalah penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung koroner. Karena itu, baiknya ketika menyadari tengah mengalami represi mental, Anda baiknya tidak melulu menolak kejadian yang tidak menyenangkan tersebut, melainkan mencoba berdamai dengan situasi yang terjadi.

***

Tiap manusia pastinya memiliki manusia. Menyembunyikan masalah tersebut ke dalam bentuk represi mental awalnya memang terlihat hebat karena Anda tampak mampu mengendalikan diri. Akan tetapi, dampak yang terjadi justru bisa membuat kondisi Anda semakin memprihatinkan. Cobalah hadapi masalah Anda dan jika perlu bantuan tenaga ahli, jangan sungkan mendatangi psikolog.

Read More