Category Operasi

Kondisi Medis yang Dapat Diperiksa dengan Laparotomi

Pada laparotomi, dokter bedah akan membuat sayatan pada perut pasien

Dalam dunia medis, mendiagnosa atau “mencari” sesuatu yang salah di dalam perut bisa dilakukan dengan metode laparotomi. Apa, sih, laparotomi itu? Ya, laparotomi adalah prosedur bedah medis dengan teknik sayatan di dinding perut atau bagian abdomen.

Metode laparotomi ini memungkinkan dokter melihat dan merasakan organ dalam rongga perut pasien sehingga dapat membuat diagnosis tentang kondisinya. Namun, saat ini laparotomi sudah tak sepopuler dahulu. Pasalnya, saat ini sudah ada teknik diagnosa yang tidak memerlukan pembedahan. Laparotomi, saat ini, hanya dilakukan jika semua prosedur lainnya, yang tidak membutuhkan operasi, seperti pemeriksaan sinar X, tes darah, atau urine gagal mengungkap penyakit penderita.

Pada beberapa kasus, masalah pada perut yang berhasil diidentifikasi juga dapat sekaligus ditangani dengan laparotomi. Sementara pada sebagian kasus lain, operasi lanjutan bisa diperlukan. Ketika laparotomi dilakukan, biasanya akan memeriksa organ-organ dalam perut, seperti: usus, limpa, lambung, hati, rahim, dan sebagainya.

Nah, dalam prosedur laparotomi ini sebenarnya apa saja, sih, kondisi medis yang dapat diperiksa?

  1. Abses yang Terdapat di Organ Dalam

Abses adalah luka yang muncul akibat infeksi bakteri. Ketika infeksi terjadi di kulit, nanah dan kotoran akan menumpuk di bawah kulit. Lama-lama akan muncul benjolan berwarna kemerahan dan terasa sakit ketika disentuh. Nah, benjolan berisi nanah inilah yang disebut sebagai abses.

Tak hanya di kulit, penyakit ini juga bisa muncul di bagian dalam tubuh, seperti di hati, organ retroperitoneal, organ abdomen, hingga ke pelvis. Nah, pembedahan atau laparotomi bisa membuat dokter mengetahui lebih terang mengenai kondisi ini.

  1. Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik adalah hamil di luar kandungan atau rahim. Kondisi ini menyebabkan perdarahan dari vagina dan nyeri hebat di panggul atau perut bawah. Kehamilan ektopik harus segera ditangani karena dapat berbahaya, dan janin juga tidak akan berkembang dengan normal.

Pada kehamilan ektopik, sel telur yang telah dibuahi tidak menempel pada rahim, melainkan pada organ lain. Tuba falopi adalah organ yang paling sering ditempeli sel telur pada kehamilan ektopik. Selain tuba falopi, kehamilan ektopik juga bisa terjadi di indung telur, leher rahim (serviks) atau di rongga perut.

  1. Endometriosis

Endometriosis merupakan kondisi jaringan rahim atau endometrium yang ditemukan di luar rahim, seperti  pada ovarium dan saluran telur. Penyakit ini menyerang sistem reproduksi wanita pada usia subur, dalam beberapa kasus menyerang wanita yang sudah menopause.

  1. Perforasi Usus

Perforasi merupakan lubang atau luka pada dinding suatu organ tubuh. Kondisi ini dapat terjadi pada esofagus, lambung, usus kecil, usus besar, anus atau kantung empedu. Kondisi ini umumnya dikarenakan berbagai penyakit seperti radang usus buntu (apendisitis) dan radang kantung usus besar (divertikulitis). Selain itu, kondisi ini juga dapat disebabkan oleh trauma fisik seperti luka karena tusukan pisau atau tembakan peluru.

Lubang atau luka yang terjadi pada saluran pencernaan atau kantung empedu dapat menyebabkan kondisi peritonitis atau peradangan pada lapisan tipis jaringan yang melapisi perut (peritoneum). Peritonitis dapat menyebabkan sepsis yang pada akhirnya akan menyebabkan kegagalan fungsi organ–organ tubuh.

  1. Kanker Pankreas

Kanker pankreas adalah penyakit yang disebabkan oleh tumbuhnya tumor di dalam pankreas. Pankreas adalah sebuah kelenjar besar yang merupakan bagian dari sistem pencernaan dan memiliki panjang sekitar 15 cm. Kanker pankreas bisa dialami oleh pria maupun wanita, dan biasanya terjadi pada orang-orang yang berusia lanjut atau di atas 75 tahun.

  1. Kanker Ovarium

Kanker ovarium merupakan kanker yang muncul di jaringan indung telur. Kanker ovarium lebih sering terjadi pada wanita pasca-menopause.  

Kanker ovarium terjadi karena adanya perubahan atau mutasi genetik pada sel-sel ovarium. Sel tersebut menjadi abnormal, serta tumbuh dengan cepat dan tidak terkontrol.

Nah, kira-kira itulah beberapa kondisi medis yang dapat didagnosis dan diatasi dengan laparotomi. Meski tidak terbatas dengan apa yang ditulis di atas, tetapi kurang lebih itu adalah kondisi kesehatan umum yang butuh prosedur laparotomi.

Read More

Operasi Katarak

Katarak adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh keruhnya lensa mata. Katarak dapat mengakibatkan penglihatan seseorang kabur. Jika manusia mengalami gangguan seperti ini, maka mereka perlu menjalani operasi katarak.

Ketika pasien menjalankan operasi katarak, lensa mereka yang keruh digantikan dengan lensa buatan. Tentunya prosedur ini melibatkan dokter mata dan perlu ditangani secara profesional. Setelah pasien menjalankan prosedur ini, mereka biasanya tidak perlu rawat inap. Operasi katarak berlangsung antara 15 menit hingga 1 jam.

Walaupun operasi katarak membutuhkan waktu yang singkat, pasien perlu mengeluarkan biaya sekitar Rp 17 juta, tergantung rumah sakit pilihan pasien, jenis lensa, teknik operasi, dan obat bius yang digunakan.

Alasan Pasien Perlu Menjalani Operasi Katarak

Pasien perlu menjalani katarak untuk mencegah terjadinya kerusakan pada mata. Pasien perlu menjalankan operasi katarak jika mereka mengalami gangguan parah pada mata sehingga mereka hampir tidak bisa melihat. Jika manusia mengalami katarak, namun penglihatannya masih baik, maka tidak perlu menjalankan operasi katarak.

Pada awalnya orang yang mengalami gangguan pada mata, mereka memerlukan kacamata atau kontak lensa untuk melihat dengan lebih jelas. Namun, seiring berjalannya waktu, jika kondisi mata manusia semakin tidak membaik, mereka mengalami katarak. Katarak dapat menimbulkan gejala berupa:

  • Pandangan kabur atau buram.
  • Pandangan terhadap suatu benda seolah-olah tampak ganda.
  • Mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya.
  • Penglihatan yang buruk di malam hari.

Langkah-Langkah Sebelum Menjalani Operasi Katarak

Jika Anda mengalami gangguan pada mata sehingga Anda hampir tidak bisa melihat, maka Anda perlu menjalani operasi katarak. Namun, sebelum menjalankan operasi katarak, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan. Langkah-langkah tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan pada mata

Dokter akan memeriksa ukuran dan bentuk mata Anda agar dapat menentukan jenis lensa yang tepat untuk Anda.

  • Riwayat medis

Setelah memeriksa ukuran dan bentuk mata, dokter akan bertanya jika Anda memiliki riwayat medis yang menyebabkan gangguan pada mata, atau jika Anda menggunakan obat-obatan tertentu. Jika Anda menggunakan obat-obatan, Anda diminta untuk menghentikannya, karena kemungkinan akan mengalami pendarahan selama operasi.

  • Obat tetes mata

Pada satu atau dua hari sebelum menjalani operasi katarak, Anda perlu menggunakan obat tetes antibiotik untuk mencegah pembengkakan dan infeksi ketika menjalani operasi katarak.

  • Berpuasa

Anda juga diminta untuk berpuasa dengan tidak mengkonsumsi makanan atau minuman selama 12 jam sebelum operasi katarak dimulai.

  • Pemilihan jenis lensa

Ada tiga jenis yang bisa digunakan, antara lain:

  • Lensa monofokal, jenis lensa yang memiliki titik fokus pada jarak tertentu.
  • Lensa multifokal, jenis lensa yang digunakan untuk melihat benda dalam jarak dekat, menengah, dan jauh.
  • Lensa torik, jenis lensa yang digunakan untuk mengatasi mata silinder.

Setelah melakukan langkah-langkah tersebut, Anda dapat menjalani operasi katarak. Ada beberapa jenis prosedur pada operasi katarak, antara lain phacoemulsification, operasi laser, operasi katarak ekstrakapsular, dan operasi katarak intrakapsular.

Apa Yang Perlu Dilakukan Setelah Menjalani Operasi Katarak?

Setelah Anda menjalani operasi katarak, dalam beberapa minggu Anda diminta untuk:

  • Menggunakan obat tetes mata sesuai yang dianjurkan dokter.
  • Menghindari benda-benda yang mudah masuk ke dalam mata seperti air atau sabun.
  • Tidak menggosok mata.
  • Menggunakan kacamata atau pelindung mata.
  • Menggunakan pelindung mata ketika tidur.

Komplikasi

Beberapa minggu setelah menjalani operasi katarak dan mengikuti hal-hal yang diminta di atas, Anda dapat melakukan aktivitas dengan normal. Namun, tidak semua operasi berjalan dengan lancar, karena komplikasi bisa saja terjadi walaupun jarang. Komplikasi yang memungkinkan terjadi meliputi:

  • Pembengkakan atau infeksi pada mata.
  • Pendarahan.
  • Kelopak mata yang turun.
  • Lepasnya retina (ablasi retina).
  • Tekanan dalam mata yang meningkat sementara.
Read More