Apa itu Tes Garpu Tala? Ini Penjelasannya

Salah satu cara dalam melakukan tes pendengaran adalah dengan menggunakan metode tes garpu tala. Gangguan pendengaran terdapat dua bagian, yakni tulu kondukif dan tuli sensorineural, konduktif berarti terjadi masalah pada saluran telinga atau di bagian tengah telinga. Kondisi ini mampu menimbulkan gelombang suara terhalang dan tidak masuk ke bagian telinga.

Tuli konduktif mampu menyebabkan hilangnya pendengaran sementara dan bahkan hingga permanen. Sementara, tuli sensorineural terjadi jika koklea yakni bagian dalam telinga atau saraf pendengaran tidak berfungsi secara normal. Kondisi ini membuat suara tidak bisa masuk dan menuju ke otak dengan semestinya.

Penjelasan Tes Garpu Tala

Tes pendengaran dengan garpu tala menggunakan frekuensi 512Hz yang bertujuan untuk mengetahui respons pasien terhadap suara dan getaran yang terjadi di dekat telinga. Tes ini pada umumnya dapat dilakukan dengan memakai tes Weber dan tes Rinne. Kedua tes ini tentu memiliki perbedaan yang cukup signifikan.

Dalam pelaksanaan tes weber, dokter akan membenturkan garpu tala pada objek keras guna mendapatkan getaran. Setelah itu, ujung dari garpu tala akan diletakkan tepat di depan dahi, hidung dan gigi pasien. Jika pasien dengan pendengaran yang normal, suara yang terdengar akan keras pada kedua telinga.

Namun, jika pasien dengan pendengaran normal mendengar suara yang lebih keras, itu merupakan tanda bahwa pasien mengalami tuli sensorineural. Sementara itu jika garpu tala terdengar lebih jelas pada kondisi telinga yang bermasalah atau dapat dikatakan buruk, itu merupakan tanda bahwa pasien mengalami tuli konduktif.

Sementara itu tes rinne bisa dilakukan dengan dikter akan membentukan garpu tala untuk membuat getaran, lalu garpu tala diletakkan pada bagian samping dan belakang telinga, guna membandingkan hantaran tulang dan hantaran udara. Untuk pasien normal, akan mendengarkan suara di bagian samping atau disebut juga hantaran udara dua kali lebih panjang.

Ketimbang jika mendengar hantaran tulang atau suara di belakang telinga, untuk tulis sensorineural juga sama hantaran udara juga akan terdengar lebih panjang ketimbang hantaran tulang walau tidak sampai dua kali. Untuk pasien dengan gangguan pendengaran konduksi, hantaran tulang terdengar lebih panjang ketimbang hantaran udara.

Meski demikian, dalam melakukan tes pendengaran terdapat beberapa indikasi sebagai tolok ukur para dokter. Nantinya indikasi ini dijadikan sebagai poin-poin pada seseorang yang memaksa seseorang untuk harus menjalani tes pendengaran. Berikut beberapa indikasi bagi seseorang untuk dapat melakukan tes pendengaran.

  • Pasien merasa terdapat dengungan pada telinga atau disebut dengan tinnitus.
  • Pasien berbicara terlalu keras hingga membuat orang di sekitar atau lawan bicara merasa terganggu.
  • Pasien sering meminta lawan bicara mengulang ucapan.
  • Pasien merasa sulit mendengar percakapan, salah satunya ketika suasana ramai.
  • Pasien biasa menyaksikan televisi dengan suara keras dan mengganggu orang lain.
  • Pasien memiliki kelainan kongenital atau bisa dibilang cacat bawaan lahir di telinga.

Selain itu, sebelum melakukan tes pendengaran terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan. Pada umumnya persiapan ini lebih kepada kesiapan kondisi dari pasien dan harus lebih sering berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Seperti jika pasien sebelumnya telah mengalami infeksi pada telinga.

Sementara dokter juga akan melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu guna memastikan kondisi dari pasien. Seperti misalnya membersihkan bagian dalam telinga jika terdapat kotoran yang mengeras dan akan mengganggu proses dari tes garpu tala.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>